Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Surat untuk Tuhan
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Tuhan, aku kepengin serius... jadi makhlukmu,
aku ingin serius jadi manusia, jadi kekasihmu.. seperti Muhammad.
Aku tahu tangan-Mu selalu terulur padaku, maka ulurkanlah lebih jauh,
aku ingin serius jadi manusia, jadi kekasihmu.. seperti Muhammad.
Aku tahu tangan-Mu selalu terulur padaku, maka ulurkanlah lebih jauh,
lebih dalam tuk merengkuhku dalam pelukan-Mu,
kemudian jangan pernah Kau lepaskan aku,
lalu ku ingin mati dalam rekah senyum-Mu.
Tuhan, kau begitu indah bagiku,
you're inspired me...
Masih sudikah dikau Tuhan?
Tuhan, kau begitu indah bagiku,
you're inspired me...
Masih sudikah dikau Tuhan?
Last Blood
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova

an ordinary world ... ?
kenapa ?
energi-ku t'lah habis.
maaf ini yang penghabisan.
maka tak kan kau temui lagi aku
yang teramat ... padamu
aku yang begitu ... padamu
kerna segala kini t'lah menjadi bukan apa-apa,
saat ke seribu kalinya dan kau tetap pada "tidak"mu yang seperti batu
maka sejak itu-pun pula aku
tak lagi sekeras batu
tak lagi se-gemuruh ombak
tak lagi sederas air
maka kini aku adalah air
yang mengalir sampai jauh
pun ketika ku harus menggenang di comberan, selokan, parit, atau rawa-rawa
atau ku begitu anggun menjadi danau dan telaga
mengembara ke benua dalam dan jadi laut
pun ketika ku berkelok-kelok dalam sungai
pun ketika ku harus jatuh sedemikian derasnya dalam "waterfall"
maafkan aku sayang,
ku tak lagi seperti masa itu
yang begitu deras menghantam karang
atau begitu gigih menahan empasan kala
kenapa ?
energi-ku t'lah habis.
maaf ini yang penghabisan.
maka tak kan kau temui lagi aku
yang teramat ... padamu
aku yang begitu ... padamu
kerna segala kini t'lah menjadi bukan apa-apa,
saat ke seribu kalinya dan kau tetap pada "tidak"mu yang seperti batu
maka sejak itu-pun pula aku
tak lagi sekeras batu
tak lagi se-gemuruh ombak
tak lagi sederas air
maka kini aku adalah air
yang mengalir sampai jauh
pun ketika ku harus menggenang di comberan, selokan, parit, atau rawa-rawa
atau ku begitu anggun menjadi danau dan telaga
mengembara ke benua dalam dan jadi laut
pun ketika ku berkelok-kelok dalam sungai
pun ketika ku harus jatuh sedemikian derasnya dalam "waterfall"
maafkan aku sayang,
ku tak lagi seperti masa itu
yang begitu deras menghantam karang
atau begitu gigih menahan empasan kala
Re-birth
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Orgasm
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Anyone
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
kita belajar untuk mencintai hidup
kita belajar tuk menghargai kehidupan
"sesaat yang melahirkan berjuta saat"
kita belajar untuk tidak takut pada mati
kita belajar tuk mengerti arti mati dalam hidup
dan hidup dalam kematian
kita belajar tuk menyetubuhi ibu pertiwi
kita belajar tuk mencintai teman, anak kecil yang suka bermain, mahluk Tuhan di tepian jalan ...
kita belajar tuk mencintai manusia
sungguh ku teramat cemburu pada kartini muda yang mengajariku jadi manusia,
kita belajar tuk menghargai kehidupan
"sesaat yang melahirkan berjuta saat"
kita belajar untuk tidak takut pada mati
kita belajar tuk mengerti arti mati dalam hidup
dan hidup dalam kematian
kita belajar tuk menyetubuhi ibu pertiwi
kita belajar tuk mencintai teman, anak kecil yang suka bermain, mahluk Tuhan di tepian jalan ...
kita belajar tuk mencintai manusia
sungguh ku teramat cemburu pada kartini muda yang mengajariku jadi manusia,
salam manis untuk che...; aku ingin mengecup keningnya sebelum digantung ; guru yang mengajariku tentang cinta..
Pada Tan Malaka.... tanyalah padanya apa arti mencintai tanah ini? apa arti memberi sepenuh hati... "kunang selalu berkedip walau malam telah sangat larut", katanya yang terus terngiang dalam "gerakku"
lalu "kau perempuan" hadir dalam mimpi-ku
lalu "kau wanita" adalah candu dalam hidupku
lalu "kau perempuan" hadir dalam mimpi-ku
lalu "kau wanita" adalah candu dalam hidupku
Armageddon
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova

Kini, kau telah sepenuhnya menjadi milikku. Kau tak bisa lepas dariku. Kau sepenuhnya telah menjadi diriku. Inilah pembunuhan itu. Berkali-kali kau telah kutikam dengan sebilah belati bernama cinta. Dan kau cuma mampu tersenyum: mencoba untuk menerima luka. Kau tak lagi punya harapan, selain aku. Kau tak lagi punya keinginan, selain aku. Kau telah kehilangan hak untuk memiliki, kau telah kehilangan dirimu sendiri. Tahukah kau, siapakah kekasih yang selama ini begitu kaucintai? Ya, ia tidak lebih hanya sebilah belati. Aku hanyalah sebilah belati bernama cinta. Aku hanya mencinta bayangan diriku di dalam dirimu. Selama ini aku hanya membangun mimpi-mimpi. Telah kubelai pundakmu dengan keindahan mimpi. Telah kukecup keningmu dengan keindahan mimpi. Aku tak perduli dengan cintamu yang suci, aku hanya peduli pada mimpi-mimpi. Kuakui, aku bukanlah kekasih yang pantas kaucintai, karena aku hanya seorang pemimpi. Tak ada keberanian dalam diriku, selain hanya untuk menyakiti hatimu. Kekasih, maafkanlah aku. Harus kuakui, bahwa selama ini, kau adalah matahari. Sedangkan aku: cuma setitik debu yang selalu berkhayal menjadi matahari. Seluruh makna hidupku, seluruh keadilan yang selama ini selalu kuseru, taklah lebih berharga dibanding setitik airmatamu. Kekasih, inilah airmataku
Moonlight Sonata (Dream Theatre)
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova

Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam …
dan rinduku yang tlah usang dalam reruntuhan senja
mungkin ini waktu yang tepat tuk lupakan karma
berahi yang terhimpit dalam tembok kamar dan jam dinding yang berdetak pada syahdunya malam dan tetes embun di pucuk cemara
ini yang penghabisan, temanku!
ini buat kali terakhir kita beri makan pada peluh kita yang terengah dalam dekapan waktu
tidak malukah kita pada rembulan malam atau cicak di dinding, atau dua ekor kepik yang bersenggama di kolong meja
mungkin sekali lagi akan kulupakan malam dan diam, dan tak berharap tentang sesuatu yang sanggupmemberi terang esok pagi
Kadang begitu cepat kita tentukan akhirnya, sedang waktu, bagai arus yang tak pernah brenti, seperti mau saja kita mengatakan cinta bagi yang tak pernah kita cinta: "Lupakan saja!"
Dan kukenang diriku dalam cerminmu: semasa jalan-jalan yang kita lalui pada bunga rumput, padi di sawah dan sepoi angin senja menjadi begitu bersahabat; kita begitu mesra dan syahdu menatap matari timbul dan tenggelam, yang tiada sanggup kita tentukan arahnya, namun bahagia, terasa napas keabadian dalam seluruh dahaga jiwa
Tuhan!!! kulihat langitku berwarna-warna.
Dan sebutir debu itu tak tahu lagi ke mana dirinya akan diterbangkan hampa, selintas kecewa memenuhi kesemestaannya - jika di satu titik mungkin kita tiada lagi berupa, janganlah itu kita katakan: "Tiada!" - atau kekosongan yang begitu sulit kita tebak hadirnya - dan dalam satu putaran waktu rindu pun pecahlah, iamerasa lewat sebuah lorong dan tak tahu apakah yang masih tersisa dari dirinya, ia menatap kekosongan itu dengan biasa dan dengan biasa pula bertanya: "Kekasih, tak cukupkah hanya sekedar cinta?"
Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam, mencoba membangun kepastian, di antara kepingan dan puing sejarah, demi arah, walau kita tahu: terkadang arah cuma sepenggal nasib yang barangkali kelewat percuma, barangkali juga cinta akan begitu saja kita lupakan, dan dengan berbagai dalih, yang seolah-olah perkasa, kita akan berteriak dari jalan demi jalan: "Kekasih, kenapa maut begini hambar rasanya?"
Dan bergegas: kupadamkan lampu dalam kamarku
Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam ...
*Eraprimanugraha copy right,160406 in the moonlight sonata
dan rinduku yang tlah usang dalam reruntuhan senja
mungkin ini waktu yang tepat tuk lupakan karma
berahi yang terhimpit dalam tembok kamar dan jam dinding yang berdetak pada syahdunya malam dan tetes embun di pucuk cemara
ini yang penghabisan, temanku!
ini buat kali terakhir kita beri makan pada peluh kita yang terengah dalam dekapan waktu
tidak malukah kita pada rembulan malam atau cicak di dinding, atau dua ekor kepik yang bersenggama di kolong meja
mungkin sekali lagi akan kulupakan malam dan diam, dan tak berharap tentang sesuatu yang sanggupmemberi terang esok pagi
Kadang begitu cepat kita tentukan akhirnya, sedang waktu, bagai arus yang tak pernah brenti, seperti mau saja kita mengatakan cinta bagi yang tak pernah kita cinta: "Lupakan saja!"
Dan kukenang diriku dalam cerminmu: semasa jalan-jalan yang kita lalui pada bunga rumput, padi di sawah dan sepoi angin senja menjadi begitu bersahabat; kita begitu mesra dan syahdu menatap matari timbul dan tenggelam, yang tiada sanggup kita tentukan arahnya, namun bahagia, terasa napas keabadian dalam seluruh dahaga jiwa
Tuhan!!! kulihat langitku berwarna-warna.
Dan sebutir debu itu tak tahu lagi ke mana dirinya akan diterbangkan hampa, selintas kecewa memenuhi kesemestaannya - jika di satu titik mungkin kita tiada lagi berupa, janganlah itu kita katakan: "Tiada!" - atau kekosongan yang begitu sulit kita tebak hadirnya - dan dalam satu putaran waktu rindu pun pecahlah, iamerasa lewat sebuah lorong dan tak tahu apakah yang masih tersisa dari dirinya, ia menatap kekosongan itu dengan biasa dan dengan biasa pula bertanya: "Kekasih, tak cukupkah hanya sekedar cinta?"
Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam, mencoba membangun kepastian, di antara kepingan dan puing sejarah, demi arah, walau kita tahu: terkadang arah cuma sepenggal nasib yang barangkali kelewat percuma, barangkali juga cinta akan begitu saja kita lupakan, dan dengan berbagai dalih, yang seolah-olah perkasa, kita akan berteriak dari jalan demi jalan: "Kekasih, kenapa maut begini hambar rasanya?"
Dan bergegas: kupadamkan lampu dalam kamarku
Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam ...
*Eraprimanugraha copy right,160406 in the moonlight sonata
Stranger
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Nocturne
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova

Masih Ada Harapan sebelum Mati (satu)
Masih ada harapan sebelum mati,
Masih ada harapan sebelum mati,
sebelum kepedihan sampai ke inti nyeri.
Mungkin tak ada yang pantas kita pertahankan,
Mungkin tak ada yang pantas kita pertahankan,
bila pada akhirnya setiap pilihan cuma mampu
melemparkan kita pada kebencian.
(Namun, apakah arti kehidupan, bila kita musti
(Namun, apakah arti kehidupan, bila kita musti
selalu menyerah pada kenyataan?)
Jadi, baiklah kita lanjutkan saja perjalanan ini,
Jadi, baiklah kita lanjutkan saja perjalanan ini,
sambil mencoba meresapi setiap kepedihan,
meski akhirnya keberadaan musti meluruh
seperti sisa embun di daun jatuh.
Mungkin suatu ketika kita akan terjatuh,
Mungkin suatu ketika kita akan terjatuh,
lantas seperti sebatang pohon (yang telah rubuh)
kita memandang langit dengan mata memohon.
"Tak ada kepastian di sana!"
Mungkin begitu awan-awan akan membentak kita.
Tetapi kita adalah anak-anak kalah
yang selalu bermimpi tentang kemenangan,
kita adalah bagian dari sejarah yang kerap terlupakan.
"Kami tak akan menyerah!"
Mungkin begitu kita akan menantang awan-awan,
"Kami tak akan menyerah!"
Mungkin begitu kita akan menantang awan-awan,
sambil sesekali meludah kepada kekosongan.
(dua) Masih ada harapan sebelum mati,
(dua) Masih ada harapan sebelum mati,
sebelum kebekuan menuntaskan nyeri.
Atau biarkan jalan-jalan asing dan berbatu itu:
perlahan melilit hati dan pikiran kita.
Atau biarkan tangan-tangan waktu yang akan membakar
dan meledakkan perjalanan kita,
lantas seperti asap kita akan bertiup:
sambil mendekap bayang-bayang hidup.
"Tapi kalian adalah kepedihan,
adalah kepedihan, adalah kepedihan!"
Mungkin begitu matahari akan berteriak membentak kita.
Mungkin begitu matahari akan berteriak membentak kita.
Tapi napas dan keinginan akan tetap menyatu di puncak pencarian,
sedangkan waktu tak pernah tuntas memberikan jawaban.
Jadi, tak ada yang musti kita takutkan,
Jadi, tak ada yang musti kita takutkan,
bila akhirnya kita akan tetap sampai pada kematian:
s e n d i r i merasakan puncak kepedihan.
Haruskah Ku Mati Karenamu?
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Selamat Tahun Baru, Kawan? (1)
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova

Selamat Tahun Baru, Kawan…!
Kami adalah manusia kalah
dari bangsa yang terjajah…
Prek! Terjajah gundulmu! Kita sudah merdeka, Cing..
sejak tahun 45 pastinya
Ayolah.., tak usah terlalu banyak elegi..
kita nikmati saja malam ini..
Ayo, tiup terompetmu…
Teeet…! Toeet..! Preet..! Toet, toet, toet….
Kami adalah manusia kalah
dari bangsa yang terjajah…
Prek! Terjajah gundulmu! Kita sudah merdeka, Cing..
sejak tahun 45 pastinya
Ayolah.., tak usah terlalu banyak elegi..
kita nikmati saja malam ini..
Ayo, tiup terompetmu…
Teeet…! Toeet..! Preet..! Toet, toet, toet….
Dulu kami tak mengenal tahun baru…
kami adalah bangsa purba
dengan budaya yang teramat tua
tulang belulang nenek moyang kami
bahkan jadi komoditi di negeri ini..
lalu bangsa-bangsa berwarna singgah di pulau kami
membawa dupa, kemenyan dan dewa-dewa..
Kami pun berlayar hingga benua dan samudra
Lalu saat itupun tiba,
betapa banyak manusia berkulit babi
dengan topi baja, tongkat berapi dan mesiu
membunuhi kepala suku kami, merampoki tanaman kami,
menenggelamkan kapal-kapal kami, merampas tanah kami
Hingga berabad-abad lamanya
kami adalah bangsa kuli
yang hanya tahu kerja rodi hingga mati
Kapal kami pun tak pernah berlayar lagi
hingga lupa pada laut, bau ombak dan panas matahari..
Kamipun lupa cara berperang,
membuat senjata, memahat arca dan candi..
kami pun terpaksa jadi petani
Hai.. Bung! Sudahlah… tak usah mendongeng cerita basi!
Ini saja yang pasti.. Tahun telah berganti..
Kita sambut abad baru, jaman baru..
Lupakan saja cerita kuno tentang candi,
arca batu dan fosil purba…
biarkan saja maling merampoknya
toh sudah tak ada gunanya buat kita…
kita pun tak punya museum tuk menampungnya
tak ada pula anggaran tuk mengurusnya…
Hai… Ayo… datanglah ke negeri kami,
negeri kaya raya dengan warisan purba
silahkan menikmati negeri kami
silahkan merampoki peninggalan kami
toh, nenek moyang kami juga sudah mati…
Eiit.., tapi jangan lupa, hasilnya nanti kami juga dibagi..!
Hopla…
Mesin uap telah tercipta
dan Edison menemukan konstanta cahaya…
Jaman baru industri bermula...
Kami pun membangun jalan besi
hingga anak-anak kami mati tak terurusi
Dan kami mulai tak menanami padi
hingga anak-anak kami lupa pada nasi
Sawah ladang kami pun telah tergadai,
tanam paksa dan land rente Meneer bilang…
Kami pun pura-pura bersekolah
hanya untuk sekedar tahu baca tulis Eropa dan sedikit berhitung
sekedar jadi babu dan kuli di pabrik gula
Selamat Tahun Baru, Kawan…
Beruntung, kami tak sengaja berproklamasi…
Jadilah kami bangsa yang “seolah-olah” merdeka…
lalu kami belajar mengurus negeri…
membunuhi kepala suku kami, merampoki tanaman kami,
menenggelamkan kapal-kapal kami, merampas tanah kami
Hingga berabad-abad lamanya
kami adalah bangsa kuli
yang hanya tahu kerja rodi hingga mati
Kapal kami pun tak pernah berlayar lagi
hingga lupa pada laut, bau ombak dan panas matahari..
Kamipun lupa cara berperang,
membuat senjata, memahat arca dan candi..
kami pun terpaksa jadi petani
Hai.. Bung! Sudahlah… tak usah mendongeng cerita basi!
Ini saja yang pasti.. Tahun telah berganti..
Kita sambut abad baru, jaman baru..
Lupakan saja cerita kuno tentang candi,
arca batu dan fosil purba…
biarkan saja maling merampoknya
toh sudah tak ada gunanya buat kita…
kita pun tak punya museum tuk menampungnya
tak ada pula anggaran tuk mengurusnya…
Hai… Ayo… datanglah ke negeri kami,
negeri kaya raya dengan warisan purba
silahkan menikmati negeri kami
silahkan merampoki peninggalan kami
toh, nenek moyang kami juga sudah mati…
Eiit.., tapi jangan lupa, hasilnya nanti kami juga dibagi..!
Hopla…
Mesin uap telah tercipta
dan Edison menemukan konstanta cahaya…
Jaman baru industri bermula...
Kami pun membangun jalan besi
hingga anak-anak kami mati tak terurusi
Dan kami mulai tak menanami padi
hingga anak-anak kami lupa pada nasi
Sawah ladang kami pun telah tergadai,
tanam paksa dan land rente Meneer bilang…
Kami pun pura-pura bersekolah
hanya untuk sekedar tahu baca tulis Eropa dan sedikit berhitung
sekedar jadi babu dan kuli di pabrik gula
Selamat Tahun Baru, Kawan…
Beruntung, kami tak sengaja berproklamasi…
Jadilah kami bangsa yang “seolah-olah” merdeka…
lalu kami belajar mengurus negeri…
Selamat Tahun Baru, Kawan? (2)
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Selamat Tahun Baru, Kawan…!
Kami adalah manusia kalah
dari bangsa yang terjajah…
Kami adalah manusia pekerja
dari bangsa kuli
Ya, komoditas kebanggaan kami adalah ekspor TKW
kami mengobral diri kami biar laku di pasaran
jika tak banting harga, tentulah kami kalah bersaing
bahkan kami pun masih beri bonus “plus”
“Kami adalah buruh yang yang sangat toleran
jika gaji kami tak dibayar setahun,
kami pun diam jika upah kami dipotong
meski anak kami harus makan dari sampah tong…”
“Kami berjuang untuk devisa negeri
lantaran minyak sudah habis di dalam negeri,
karena turis tak mau lagi datang ke Bali…”
“Kami adalah TKW dengan servis plus-plus,
majikan boleh saja menyiksa kami,
bahkan kami pun tak menolak diperkosa,
kamipun rela jika harus bunuh diri,
atau dilempar dari lantai 20…
Kami sudah tak peduli dengan tubuh kami,
yang penting gaji kami sampai ke negeri
buat beli nasi anak kami
dan suami yang cuma jadi kuli…”
Kami adalah manusia kalah
dari bangsa yang terjajah…
Kami adalah manusia pekerja
dari bangsa kuli
Ya, komoditas kebanggaan kami adalah ekspor TKW
kami mengobral diri kami biar laku di pasaran
jika tak banting harga, tentulah kami kalah bersaing
bahkan kami pun masih beri bonus “plus”
“Kami adalah buruh yang yang sangat toleran
jika gaji kami tak dibayar setahun,
kami pun diam jika upah kami dipotong
meski anak kami harus makan dari sampah tong…”
“Kami berjuang untuk devisa negeri
lantaran minyak sudah habis di dalam negeri,
karena turis tak mau lagi datang ke Bali…”
“Kami adalah TKW dengan servis plus-plus,
majikan boleh saja menyiksa kami,
bahkan kami pun tak menolak diperkosa,
kamipun rela jika harus bunuh diri,
atau dilempar dari lantai 20…
Kami sudah tak peduli dengan tubuh kami,
yang penting gaji kami sampai ke negeri
buat beli nasi anak kami
dan suami yang cuma jadi kuli…”
Selamat Tahun Baru, Kawan? (3)
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova

Selamat Tahun Baru, Kawan…!
Kami adalah manusia kalah
dari bangsa yang terus terjajah
Hip-hip… hura…
Ayo kita hitung mundur…
5,4,3,2,1… Tuuuiiit… Dhueerrr! Horee…!!
Happy New Year…!! Selamat Datang Tahun yang Baru!!
Lihatlah Bung, kembang api pada menyala
Ayo, kita berpesta…Buang segala susah,
tak usah pula kau pasang wajah murung begitu
lupakan hutang yang menumpuk barang sejenak
lupakan sebentar istri mudamu dan bayi yang dikandungnya
toh sudah ada mertua yang menjaga…
Ayo Bung, kita minum sampai pagi…
Dulu, ketika merdeka…
kami mengira bisa mengurus negeri
kami mengira bisa mengembalikan harga diri
kami mengira bisa berdaulat di negeri sendiri
Tapi perang saudara terus melupakan kami…
mulai dari PKI hingga DI
dan kami pun lupa membangun negeri
lalu kami belajar berdemokrasi
lalu kami jadi pintar menipu kawan sendiri
lalu kami jadi rakus jadi menteri
lalu kami mulai membunuhi pejuang kami
lalu kami membantai anak-anak negeri
lalu kami pelan-pelan belajar korupsi
lalu kami tahu apa itu kolusi
lalu kami terbiasa merampok uang negeri…
Busyeet…!! Berhentilah mengutuki diri sendiri..
tak usahlah kau membuka aib kawan sendiri
Ayolah… korupsi sudah jadi budaya…
merampok, membunuh, menipu dan memperkosa
memang sudah pekerjaan kita
kita memang negara garong dengan birokrasi maling
mau apa lagi… mari kita nikmati…
Hei.. lihat, ada ABG sexy menawarkan diri…
Lelah kami pada orde yang basi…
lalu kami menumpahkan darah lagi
untuk orde baru yang kelak kami kutuki
Kami tak mengira… pulau yang kami rebut kembali
ternyata tak pernah dinikmati anak negeri
Laut kami dirampoki…
kapal-kapal pabrik mengambil ikan dari laut kami
untuk dijual kembali pada kami…
Bodoh benar kami!!
Nak, jangan pernah beli sarden lagi!!!
Air kami diracuni dengan limbah pabrik
mulai dari karawang hingga bekasi
mulai dari kali hingga sumur untuk mandi
kami pun terpaksa minum pepsi
Nak.., jangan pernah beli cola lagi!!!
Biar saja kita mati berdiri dengan air sendiri!
Itu lebih punya harga diri…
Hei.. Bung…! Mengigau apa kau?
Mau berhenti minum cola?
Puih…! Jangan munafik…
setiap hari kau dapat persenan dari pabrik
He.. he.. Maaf kawan, aku tak sengaja menghardik…
lupakan itu… kita nikmati saja brandy dan whisky... Hikz!
Anak-anak kami kelaparan mengais nasi basi
sementara White House hidup dari emas kami
karet kami jadi rejeki untuk Michelin dan Pirelli
hutan kami jadi komoditi untuk furniture Itali
Bodoh benar kami ini…
Kami adalah negara kaya raya
dengan rakyat paling sengsara
Tapi penguasa negeri tiap malam berpesta…
dengan pajak dari kami
dengan keringat dari kami…
dengan darah dari kami…
dengan utang luar negeri yang dibebankan pada kami…
Orang tua kami pada mati bunuh diri…
Anak-anak kami pada mati kurang gizi…
Kami pun jadi gelandangan di negeri sendiri…
di negeri yang dulu direbut oleh kakek kami
di negeri yang dulu kaya dengan padi
di negeri yang dulu agung dengan harga diri
di negeri dengan seribu candi dan kapal pinisi
di negeri yang sekarang kami warisi
sebagai tempat untuk mengungsi
lalu kami dikejar-kejar polisi
Wahai Tuhan yang Maha Sakti,
kapan kami berhenti menangisi diri sendiri…?
kapan Mahdi datang menjemput kami…?
Kami adalah manusia kalah
dari bangsa yang terus terjajah
Hip-hip… hura…
Ayo kita hitung mundur…
5,4,3,2,1… Tuuuiiit… Dhueerrr! Horee…!!
Happy New Year…!! Selamat Datang Tahun yang Baru!!
Lihatlah Bung, kembang api pada menyala
Ayo, kita berpesta…Buang segala susah,
tak usah pula kau pasang wajah murung begitu
lupakan hutang yang menumpuk barang sejenak
lupakan sebentar istri mudamu dan bayi yang dikandungnya
toh sudah ada mertua yang menjaga…
Ayo Bung, kita minum sampai pagi…
Dulu, ketika merdeka…
kami mengira bisa mengurus negeri
kami mengira bisa mengembalikan harga diri
kami mengira bisa berdaulat di negeri sendiri
Tapi perang saudara terus melupakan kami…
mulai dari PKI hingga DI
dan kami pun lupa membangun negeri
lalu kami belajar berdemokrasi
lalu kami jadi pintar menipu kawan sendiri
lalu kami jadi rakus jadi menteri
lalu kami mulai membunuhi pejuang kami
lalu kami membantai anak-anak negeri
lalu kami pelan-pelan belajar korupsi
lalu kami tahu apa itu kolusi
lalu kami terbiasa merampok uang negeri…
Busyeet…!! Berhentilah mengutuki diri sendiri..
tak usahlah kau membuka aib kawan sendiri
Ayolah… korupsi sudah jadi budaya…
merampok, membunuh, menipu dan memperkosa
memang sudah pekerjaan kita
kita memang negara garong dengan birokrasi maling
mau apa lagi… mari kita nikmati…
Hei.. lihat, ada ABG sexy menawarkan diri…
Lelah kami pada orde yang basi…
lalu kami menumpahkan darah lagi
untuk orde baru yang kelak kami kutuki
Kami tak mengira… pulau yang kami rebut kembali
ternyata tak pernah dinikmati anak negeri
Laut kami dirampoki…
kapal-kapal pabrik mengambil ikan dari laut kami
untuk dijual kembali pada kami…
Bodoh benar kami!!
Nak, jangan pernah beli sarden lagi!!!
Air kami diracuni dengan limbah pabrik
mulai dari karawang hingga bekasi
mulai dari kali hingga sumur untuk mandi
kami pun terpaksa minum pepsi
Nak.., jangan pernah beli cola lagi!!!
Biar saja kita mati berdiri dengan air sendiri!
Itu lebih punya harga diri…
Hei.. Bung…! Mengigau apa kau?
Mau berhenti minum cola?
Puih…! Jangan munafik…
setiap hari kau dapat persenan dari pabrik
He.. he.. Maaf kawan, aku tak sengaja menghardik…
lupakan itu… kita nikmati saja brandy dan whisky... Hikz!
Anak-anak kami kelaparan mengais nasi basi
sementara White House hidup dari emas kami
karet kami jadi rejeki untuk Michelin dan Pirelli
hutan kami jadi komoditi untuk furniture Itali
Bodoh benar kami ini…
Kami adalah negara kaya raya
dengan rakyat paling sengsara
Tapi penguasa negeri tiap malam berpesta…
dengan pajak dari kami
dengan keringat dari kami…
dengan darah dari kami…
dengan utang luar negeri yang dibebankan pada kami…
Orang tua kami pada mati bunuh diri…
Anak-anak kami pada mati kurang gizi…
Kami pun jadi gelandangan di negeri sendiri…
di negeri yang dulu direbut oleh kakek kami
di negeri yang dulu kaya dengan padi
di negeri yang dulu agung dengan harga diri
di negeri dengan seribu candi dan kapal pinisi
di negeri yang sekarang kami warisi
sebagai tempat untuk mengungsi
lalu kami dikejar-kejar polisi
Wahai Tuhan yang Maha Sakti,
kapan kami berhenti menangisi diri sendiri…?
kapan Mahdi datang menjemput kami…?
Time of the Oath
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Bunyi kepik yang bersenggama di kolong meja
perlahan menidurkanku dalam hanyut mimpimu
Ketika ku terbangun pada lolongan serigala
yang memetik mawar dari keningmu
Betapa ku terkejut ketika matahari tak terbit lagi
dan rembulan yang telah dikunyah-kunyah Iblis
Atau bumi yang tlah dicabik-cabik Dajjal
Eureka!!
Seru Archimides yang baru saja menemukan teori relativitas
Dan betapa terkejutnya Einstein
ketika rumus Kuantum Energinya menghancurkan dunia
dan Sidharta yang tak henti menangisi manusia
Bodhidarma...
inikah kemanusiaan itu yang membunuh anaknya sendiri?
Atau seperti Icarus yang terbang meminjam sayap Gatotkaca
Dan ambisi Gajah Mada yang tinggal cerita
Pada sepotong batu dan sebongkah kaca
ku bercermin melihat dunia yang penuh luka
Pada euforia sampah industri-mu yang menikam manusia
Atau kesombongan kapitalisme-mu yang menghisap darah kami
Pada batu nisan sosialisme yang gagal mengangkat senjata
Dan Marx yang termenung pada jalan ketiga Giddens
dan Gramscy yang hanya bisa melawan dari penjara
Atau Hitler yang mati bunuh diri
Pada sebutir Gunung dan kepingan Laut yang menjelma menjadi darah
dan Cleopatara yang tak malu bercumbu dengan Marc Anthony
atau seperti Dedes yang membiarkan dirinya disetubuhi Arok
Dan betapa banyak anak-anak kami lahir di tepian jalan
pada sampah yang berceceran dan selokan yang penuh comberan
Inikah anak-anak mulia itu...?
Jiwa-jiwa suci yang hidup dari Roh Kudus Tuhanmu?
Wahai Tuhan yang Maha Cinta...
Betapa kami malu menyebut diri kami manusia!
Tiba-tiba matahari terbit lagi,
Ahoiii... tapi tidak dari timur, sayang!
Dan orang-orang berseru...
“Celakalah kita.. Matari tlah terbit dari barat”
“Ayo.. siapa jual tiket ke surga?”
“Kami beli berapapun harganya!”
Dan Isa tertawa dari surga
melihat salib Yudas terjatuh dari langit Gereja!
perlahan menidurkanku dalam hanyut mimpimu
Ketika ku terbangun pada lolongan serigala
yang memetik mawar dari keningmu
Betapa ku terkejut ketika matahari tak terbit lagi
dan rembulan yang telah dikunyah-kunyah Iblis
Atau bumi yang tlah dicabik-cabik Dajjal
Eureka!!
Seru Archimides yang baru saja menemukan teori relativitas
Dan betapa terkejutnya Einstein
ketika rumus Kuantum Energinya menghancurkan dunia
dan Sidharta yang tak henti menangisi manusia
Bodhidarma...
inikah kemanusiaan itu yang membunuh anaknya sendiri?
Atau seperti Icarus yang terbang meminjam sayap Gatotkaca
Dan ambisi Gajah Mada yang tinggal cerita
Pada sepotong batu dan sebongkah kaca
ku bercermin melihat dunia yang penuh luka
Pada euforia sampah industri-mu yang menikam manusia
Atau kesombongan kapitalisme-mu yang menghisap darah kami
Pada batu nisan sosialisme yang gagal mengangkat senjata
Dan Marx yang termenung pada jalan ketiga Giddens
dan Gramscy yang hanya bisa melawan dari penjara
Atau Hitler yang mati bunuh diri
Pada sebutir Gunung dan kepingan Laut yang menjelma menjadi darah
dan Cleopatara yang tak malu bercumbu dengan Marc Anthony
atau seperti Dedes yang membiarkan dirinya disetubuhi Arok
Dan betapa banyak anak-anak kami lahir di tepian jalan
pada sampah yang berceceran dan selokan yang penuh comberan
Inikah anak-anak mulia itu...?
Jiwa-jiwa suci yang hidup dari Roh Kudus Tuhanmu?
Wahai Tuhan yang Maha Cinta...
Betapa kami malu menyebut diri kami manusia!
Tiba-tiba matahari terbit lagi,
Ahoiii... tapi tidak dari timur, sayang!
Dan orang-orang berseru...
“Celakalah kita.. Matari tlah terbit dari barat”
“Ayo.. siapa jual tiket ke surga?”
“Kami beli berapapun harganya!”
Dan Isa tertawa dari surga
melihat salib Yudas terjatuh dari langit Gereja!
Ketika Engkau (Kekasih Jiwa yang Sejati) Memanggilku Pulang…
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova
Tuhan bikin angin,beta bikin layarnya
Tapi angin kencang, ombak laut besar,
perahu beta terbalik
Ah, beta main-main, Tuhan sungguh-sungguh!
In Memoriam
Diposting oleh
era-nezky nadya petrova

Dan rembulan menyapaku
dengan tersenyum di bukit Uhud
Di sini baju Rasulullah robek-robek,
di sini tubuh Rasulullah tercabik-cabik
di sini kekasih-Mu gugur satu persatu,
di depan matamu ya Rasulullah …
kini uhud telah sepi,
tapi darah masih belum juga kering!
Seribu malam telah berlalu,
dan rembulan kembali menyapaku di puncak Uhud
ketika Qais dan Lailla tenggelam dalam asmara
menggema beratus-ratus suara dalam fana’
dengan tersenyum di bukit Uhud
Di sini baju Rasulullah robek-robek,
di sini tubuh Rasulullah tercabik-cabik
di sini kekasih-Mu gugur satu persatu,
di depan matamu ya Rasulullah …
kini uhud telah sepi,
tapi darah masih belum juga kering!
Seribu malam telah berlalu,
dan rembulan kembali menyapaku di puncak Uhud
ketika Qais dan Lailla tenggelam dalam asmara
menggema beratus-ratus suara dalam fana’
Langganan:
Postingan (Atom)







